12 February 2026
JICT Raih Zero Fatality 2025, Perkuat Fondasi Produktivitas dan Daya Saing Logistik Nasional
Jakarta, 11 Februari 2026 – PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mencatatkan pencapaian strategis di awal tahun 2026 dengan meraih penghargaan Zero Fatality Tahun 2025 dalam ajang Safety Forum 2026 yang diselenggarakan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo pada 10–11 Februari 2026.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas keberhasilan JICT menjaga nihil kecelakaan kerja fatal sepanjang tahun 2025, di tengah tingginya intensitas operasional terminal peti kemas internasional.
Selain penghargaan Zero Fatality 2025 kepada entitas, forum tersebut juga memberikan apresiasi Best Investigator 2025 kepada Manager Security JICT, Mendy Arifandy atas kontribusi signifikan dalam investigasi insiden dan tindak lanjut perbaikannya. Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma dari pola reaktif menuju sistem pencegahan yang lebih matang.
Safety Forum 2026 sendiri mengusung tema “Kolaborasi Seluruh Insan Pelindo Group untuk Pencapaian Zero Fatality”dan menjadi momentum konsolidasi standar keselamatan di seluruh entitas Pelindo Group.
Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menegaskan bahwa keselamatan kerja merupakan fondasi utama produktivitas jangka panjang perusahaan. Dalam industri kepelabuhanan, menurutnya, keselamatan bukan hanya persoalan kepatuhan terhadap regulasi, melainkan bagian dari strategi bisnis.
“Di bisnis terminal peti kemas, downtime akibat insiden keselamatan berdampak langsung pada throughput, service level, dan kepercayaan pelanggan. Zero fatality bukan sekadar capaian K3, tetapi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan bisnis dan daya saing,” ujar Ade di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Sebagai operator terminal dengan aktivitas bongkar muat yang melibatkan alat berat, kapal, dan pergerakan kontainer dalam skala besar, JICT menghadapi profil risiko operasional yang kompleks. Karena itu, penerapan sistem manajemen keselamatan dilakukan secara disiplin dan terintegrasi dengan manajemen risiko korporasi.
“Kami memandang keselamatan sebagai risk control yang terintegrasi dalam sistem bisnis. Setiap investigasi insiden menghasilkan perbaikan proses. Setiap pembelajaran memperkuat reliability operasi. Ini adalah investasi, bukan biaya,” ujar Ade.
Bagi JICT, keunggulan operasional tidak hanya diukur dari kecepatan bongkar muat, tetapi juga dari stabilitas dan keamanan proses kerja. Dalam konteks industri logistik yang semakin kompetitif, konsistensi layanan menjadi faktor kunci menjaga kepercayaan pengguna jasa dan mitra pelayaran global.
“Keunggulan operasional tidak hanya diukur dari kecepatan bongkar muat, tetapi juga dari seberapa aman dan terkendalinya proses tersebut. Zero fatality adalah indikator bahwa sistem bekerja,” ujar Ade.
Dengan capaian ini, JICT memperkuat posisinya sebagai salah satu benchmark penerapan keselamatan kerja di sektor kepelabuhanan nasional, sekaligus menegaskan bahwa kinerja bisnis dan keselamatan bukan dua kepentingan yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang saling memperkuat dalam mendukung daya saing logistik Indonesia.